Kisah di Balik Polemik “Desil” yang Bikin Warga Kaget
- account_circle Utomo
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bayangkan perasaan Sulis (62), seorang lansia pemulung asal Surabaya yang tinggal di sebuah rumah petak berukuran 4×3 meter beratapkan seng. Selama tiga tahun lamanya, ia harus berjuang tanpa uluran bantuan sosial (bansos). Usut punya usut, bukan karena ia tidak miskin, melainkan karena namanya tercatat di Desil 7—sebuah kategori yang di atas kertas menggolongkannya sebagai warga yang cukup mampu. Usut punya usut lagi, kekeliruan itu terjadi karena ada nama anaknya yang sempat meminjam KTP untuk keperluan lain, membuat data administratifnya melompat jauh dari realitas.
Kisah Sulis hanyalah satu dari ribuan cerita manusiawi yang mewarnai polemik data desil Badan Pusat Statistik (BPS) dan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) belakangan ini. Di berbagai daerah, tidak sedikit warga yang mendadak “naik kelas” secara administratif—ada yang merasa hidup pas-pasan tapi masuk Desil 10 hingga merasa “berasa jadi CEO” dadakan, sementara kebutuhan dapur kian menghimpit.
Antara Angka Statistik dan Tangis di Lapangan
Bagi sebagian orang, istilah desil mungkin terdengar seperti urusan rumit para birokrat. Namun bagi warga kecil, angka desil adalah penentu hidup: apakah mereka berhak mendapat bantuan beras, subsidi energi, atau sekadar perhatian negara di masa senja.
Berdasarkan laporan dari berbagai media nasional seperti Kompas.com dan Detik.com, persoalan ini memicu gelombang kebingungan. Di Surabaya saja, ribuan warga tercatat mendatangi kantor dinas sosial demi mengajukan koreksi karena merasa status desil mereka meleset jauh dari kenyataan.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
-
Dinamika Hidup yang Cepat: Kehidupan wong cilik bergerak sangat dinamis. Hari ini bekerja sebagai buruh jahit atau pemulung, besok lusa bisa kehilangan pekerjaan. Sementara itu, sistem pendataan butuh waktu untuk memperbarui siklusnya.
-
Kecelakaan Administrasi & Integrasi Data: Kasus seperti pencatatan aset yang keliru—atau tumpang tindihnya data keluarga—kerap membuat sistem salah merumuskan tingkat kesejahteraan seseorang.
Memahami Arti Desil: Bukan Sekadar Vonis Kaya-Miskin
Pihak BPS sendiri telah berulang kali menjelaskan bahwa desil bukanlah cap mutlak yang menyatakan seseorang itu kaya atau miskin secara kaku. Desil membagi penduduk menjadi 10 kelompok dari yang paling rentan (Desil 1) hingga yang paling sejahtera (Desil 10) berdasarkan metode statistik (Proxy Means Test) yang melihat kondisi fisik rumah, lantai, listrik, hingga kepemilikan aset.
Namun, ketika angka statistik ini langsung dihubungkan dengan hak mendapatkan subsidi dan bansos tanpa ruang verifikasi yang cepat, di situlah letak air mata warga mulai tumpah. Angka di komputer seolah menolak melihat keringat di dahi seorang pemulung yang setiap hari hanya membawa pulang uang belasan ribu rupiah.
Harapan dan Jalan Keluar: Negara Harus Hadir Mendengar
Untungnya, angin segar mulai berhembus berkat respons cepat di tingkat daerah. Seperti yang terjadi pada Sulis di Surabaya, setelah dilakukan verifikasi ulang melalui musyawarah kelurahan dan pembaruan data oleh Dinas Sosial, ia akhirnya dikembalikan posisinya ke Desil 1—tempat di mana uluran tangan negara seharusnya memang berada.
Polemik ini memberikan satu pelajaran penting: teknologi dan data statistik yang megah tidak akan ada artinya jika abai terhadap denyut nadi rakyat kecil. Pemerintah membuka ruang sanggah dan pemutakhiran data, dan di sinilah partisipasi aktif masyarakat serta kepekaan petugas di tingkat bawah menjadi kunci.
Sebab pada akhirnya, negara yang baik bukan hanya yang pintar mengolah angka di atas meja, tapi yang sigap merangkul warganya yang sedang menangis di balik sempitnya atap seng.
- Penulis: Utomo

Saat ini belum ada komentar