Strategi Ustadz Dr. Adi Hidayat, Lc., M.A. Meraih Lailatul Qadar di 10 Malam Terakhir Bulan Ramadhan
- account_circle Utomo
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Memasuki fase akhir Ramadan, suasana masjid biasanya mulai berubah. Sebagian orang mulai sibuk dengan persiapan mudik, namun banyak juga yang justru semakin giat berburu “hadiah” terbesar di bulan suci: Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini menjadi dambaan setiap Muslim yang ingin meraih keberkahan maksimal.
Ustadz Adi Hidayat, dalam tausiyah terbarunya, mengingatkan bahwa 10 malam terakhir merupakan momen krusial. Fase ini menentukan hasil perjalanan spiritual seseorang selama sebulan penuh. Ia menekankan pentingnya meningkatkan persiapan fisik dan mental demi mengejar kemuliaan yang hanya datang setahun sekali ini.
Belajar dari Kesungguhan Rasulullah
Nabi Muhammad SAW memberikan teladan nyata melalui riwayat Sayyidah Aisyah RA. Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa Rasulullah mengubah pola ibadahnya secara drastis saat memasuki sepuluh hari terakhir. Jika pada hari-hari biasa beliau sudah giat beribadah, maka di pengujung Ramadan ini beliau “mengencangkan ikat pinggangnya.”
Istilah tersebut bukan sekadar kiasan fisik, melainkan simbol totalitas. Nabi menjauhi kesenangan duniawi dan fokus sepenuhnya pada taqarrub untuk mendekatkan diri kepada Allah. Beliau juga mengajak anggota keluarganya untuk bersama-sama menghidupkan malam. Hal ini menunjukkan bahwa momen Lailatul Qadar terlalu berharga jika kita melaluinya sendirian.
Menghidupkan Malam Tanpa Pilih-Pilih Tanggal
Satu fenomena yang sering muncul di masyarakat adalah masjid yang hanya ramai pada tanggal-tanggal ganjil. Banyak orang berspekulasi bahwa Lailatul Qadar hanya jatuh pada malam ke-21, 23, atau 27 saja. Namun, Ustadz Adi Hidayat memberikan pandangan yang lebih mendalam mengenai hal ini.
Meskipun terdapat isyarat mengenai malam-malam ganjil, Allah SWT memegang hak prerogatif sepenuhnya untuk menetapkan waktu turunnya keberkahan tersebut. Rasulullah mengajarkan strategi terbaik dengan menghidupkan setiap malam di sepuluh hari terakhir, tanpa terkecuali.
“Jika kita konsisten beribadah di setiap malam, baik itu ganjil maupun genap, maka kita pasti akan mendapatkan Lailatul Qadar,” ungkapnya. Strategi ini membantu kita agar tidak terjebak dalam hitungan tanggal dan tetap fokus pada esensi ibadah.
Suasana Langit yang Berbeda
Lailatul Qadar tidak hanya menawarkan pahala berlipat ganda yang setara dengan 85 tahun ibadah. Al-Qur’an menggambarkan suasana malam yang penuh dengan kedamaian (salam). Pada waktu tersebut, para malaikat turun ke bumi dalam jumlah yang sangat besar di bawah pimpinan Malaikat Jibril.
Kehadiran para malaikat ini membawa frekuensi ketenangan bagi mereka yang sedang beribadah. Suasana malam terasa lebih teduh, udara terasa sejuk, dan jiwa merasakan kedamaian yang mendalam. Inilah alasan mengapa aktivitas seperti zikir, salat lail, dan membaca Al-Qur’an terasa jauh lebih nikmat di waktu-waktu tersebut.
Memaksimalkan Sisa Waktu
Sebagai penutup, Ustadz Adi Hidayat mengajak umat Muslim untuk memanfaatkan sisa waktu di bulan Ramadan ini dengan optimal. Fokus utama kita bukan hanya pada seberapa lama kita terjaga, melainkan pada ketulusan kita saat memohon ampunan di saat pintu langit terbuka lebar.
Melalui doa dan amal saleh yang konsisten di 10 malam terakhir, kita berharap bisa keluar dari madrasah Ramadan sebagai pemenang. Semoga kita semua mampu meraih predikat takwa yang sesungguhnya melalui keberkahan malam yang mulia ini.
- Penulis: Utomo

Saat ini belum ada komentar