Menimbang Peran AI dalam Dunia Kreatif: Peluang atau Ancaman bagi Seniman?
- account_circle donny rosady
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pada era transformasi digital saat ini, Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak lagi sekadar menjadi pendukung teknis. Teknologi ini telah merambah ke ranah kreativitas yang selama ini menjadi domain eksklusif manusia. Mulai dari menyusun lirik lagu hingga menciptakan karya visual, peran AI dalam dunia kreatif kini hadir ditengah prosesnya.
Namun, sebuah pertanyaan mendasar muncul: Apakah kehadiran AI benar-benar memperkaya kreativitas manusia, atau justru mengikis nilai autentik dari sebuah karya?
Eksperimen Kreativitas: Efisiensi vs Imajinasi
Tim BBC World Service baru-baru ini menggelar diskusi menarik melalui eksperimen bertajuk Alternative Use Test. Eksperimen ini menguji kemampuan manusia dan AI dalam menemukan fungsi alternatif dari sebuah benda sederhana, yaitu papan luncur (skateboard).
Hasilnya menunjukkan kontras yang signifikan. Saat manusia rata-rata hanya mampu menghasilkan segelintir ide unik dalam waktu satu menit, AI sanggup memberikan ratusan ide alternatif hanya dalam hitungan detik. Secara teknis, AI menawarkan efisiensi luar biasa yang membantu siapa pun mengatasi fase kebuntuan ide (writer’s block).
Dilema Etika dan Hilangnya “Rasa”
Meski menawarkan berbagai kemudahan, para pelaku industri kreatif tetap melontarkan kritik dan kekhawatiran mendalam terhadap adopsi AI. Mereka menyoroti dua isu utama:
-
Pelanggaran Hak Cipta: Veda, seorang animator profesional, mengungkapkan kekhawatirannya tentang pengembang AI yang sering mengambil karya para seniman tanpa izin untuk melatih mesin mereka. Hal ini tidak hanya memicu masalah hukum, tetapi juga mengancam keberlangsungan karier para lulusan seni.
-
Pencarian Autentisitas: Ridwan Fasasi, seorang penyair, menekankan bahwa sastra merupakan refleksi dari pengalaman hidup manusia. AI mungkin mampu merangkai kalimat yang indah, namun mesin tidak memiliki emosi, latar belakang budaya, maupun pengalaman personal yang menjadi ruh dari sebuah karya seni yang menyentuh hati.
Demokratisasi Kreativitas
Di sisi lain, banyak pihak memandang AI sebagai katalis positif. Manon, seorang produser musik kawakan, menganggap AI sebagai rekan kolaborasi yang tangguh. Kehadiran teknologi ini memicu fenomena “demokratisasi kreativitas”.
Dahulu, menghasilkan karya berkualitas memerlukan sumber daya manusia dan biaya yang sangat besar. Kini, teknologi mulai mengikis batasan-batasan tersebut. AI membuka pintu bagi setiap individu untuk mengeksplorasi potensi kreatif mereka tanpa terhalang kendala teknis maupun finansial.
Peran AI Dalam Dunia Kreatif: Sinergi, Bukan Substitusi
Pada akhirnya, kita perlu memandang AI sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia. Manusia memiliki dorongan alami untuk berinovasi yang tidak dimiliki oleh mesin.
AI bekerja berdasarkan data dari masa lalu, sedangkan manusia memiliki kemampuan untuk membayangkan masa depan. Sinergi antara kecanggihan teknologi dan kedalaman rasa manusia inilah yang akan melahirkan standar kreativitas baru di masa depan.
- Penulis: donny rosady
- Editor: creative dibahas.com

Saat ini belum ada komentar