Laporan Khusus: Harum Adonan dari Ciracas, Kisah Anita Menyulap Hobi Menjadi ‘Cuan’ Lewat Brand “Jajan di Nita”
- account_circle donny rosady
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

JAKARTA TIMUR – Aroma mentega dan vanila yang menyerbak langsung menyambut saya begitu melangkah masuk ke sebuah gang di kawasan Ciracas, Jakarta Timur. Di sebuah rumah sederhana namun tertata rapi, kesibukan luar biasa sedang berlangsung di bawah bendera usaha yang kini mulai dikenal luas: Jajan di Nita. Bisnis Kue Kering rumahan yang berawal dari hobi.
Saya bertemu dengan Anita, sosok di balik brand tersebut. Wanita muda berusia 26 tahun ini tampak cekatan memegang piping bag. Di hadapannya, ratusan butir Brownies Panggang berjejer rapi di atas loyang, siap masuk ke dalam oven untuk memenuhi pesanan pelanggan setianya.
Bisnis Kue Kering Berawal dari “Iseng” di Dapur Sendiri
“Awalnya benar-benar cuma hobi, Mas. Saya itu paling senang kalau lihat orang makan kue buatan saya terus mereka bilang enak,” ujar Anita sambil menyeka keringat di dahi, namun tetap dengan senyum yang mengembang.
Dua tahun lalu, Anita hanyalah seorang Mahasiswa yang kerap mengisi waktu luang di akhir pekan dengan bereksperimen di dapur. Tak ada niat sedikit pun di benaknya untuk membangun brand Jajan di Nita. Namun, takdir berkata lain saat ia mulai membawa hasil karyanya ke kampus untuk dicicipi teman-temannya.
Kekuatan ‘Word of Mouth’ dan Lahirnya Brand
Tanpa diduga, testimoni positif berdatangan. Teman-temannya mulai bertanya, “Nit, bisa pesan buat hantaran nggak?” atau “Nit, bikin kue kering dong buat Lebaran nanti.” Karena banyaknya permintaan, akhirnya Anita memutuskan untuk menyeriusi usahanya dengan memberi nama Jajan di Nita.
“Nama ‘Jajan di Nita’ itu idenya sederhana saja, supaya orang merasa akrab kalau mau beli kue saya. Seperti jajan ke teman sendiri,” kenang Anita.
Kini, menjelang Hari Raya Lebaran tahun ini, pesanan di Jajan di Nita melonjak drastis. Dari yang awalnya hanya mengerjakan 5-10 toples sendirian, kini ia harus mengelola produksi hingga ratusan toples setiap minggunya.
Banjir Pesanan Menjelang Lebaran
Saat ditanya soal omzet atau ‘cuan’, Anita tertawa kecil sembari malu-malu. Meski tidak menyebut angka pasti, ia mengakui bahwa keuntungan dari bisnis kue kering rumahan ini tidak kalah dengan gaji bulanan karyawan di Jakarta.
Beberapa menu andalan dari Jajan di Nita yang menjadi primadona antara lain:

-
Brownies Panggang
-
Garlic Cheese Cookies
-
Palm Sugar Cookies
- Pandan Choco Cookies
Tantangan Menjaga Kualitas Bisnis Kue Kering
Tentu, perjalanan Jajan di Nita tidak selalu mulus. Menjaga kualitas rasa di tengah lonjakan pesanan adalah tantangan terbesar. Anita tetap bersikeras menggunakan bahan-bahan premium tanpa pengawet, meskipun harga bahan baku di pasar terus merangkak naik.
“Prinsip saya, jangan sampai pelanggan kecewa. Biarpun untungnya nggak seberapa dari satu toples, kalau mereka balik lagi dan jadi langganan Jajan di Nita, itu jauh lebih berharga,” tegasnya.
Pesan untuk Generasi Muda
Sebelum saya berpamitan, Anita menitipkan pesan bagi anak muda lainnya yang ingin memulai usaha.
“Jangan menunggu modal besar untuk mulai. Mulai saja dari apa yang kita suka. Kalau dikerjakan dengan hati, jalan menuju ‘cuan’ itu pasti ketemu, seperti saya memulai Jajan di Nita ini.”
Dari sudut Ciracas ini, Anita telah membuktikan bahwa kreativitas dan ketekunan bisa mengubah dapur biasa menjadi mesin penghasil pundi-pundi rupiah. Kini, Jajan di Nita bukan lagi sekadar hobi, melainkan simbol kemandirian ekonomi seorang wanita muda.
- Penulis: donny rosady
- Editor: creative dibahas.com

Saat ini belum ada komentar