Jangan Tertipu Flexing! Waspada Sisi Gelap Investasi Properti yang Bisa Bikin Bangkrut Total
- account_circle donny rosady
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Media sosial saat ini sering kali menampilkan narasi keberhasilan investasi properti yang tampak sangat mudah. Sebagai contoh, kita kerap melihat konten tentang individu yang membangun portofolio besar dalam waktu singkat. Namun, calon investor yang bijak harus melihat melampaui tampilan tersebut, memahami dinamika industri yang sebenarnya dan mengetahui Strategi Investasi Properti terbaik.
Secara investigatif, banyak narasi tersebut mengandung survival bias. Oleh karena itu, kita cenderung hanya mendengar cerita sukses tanpa menyadari banyaknya investor yang mengalami kesulitan finansial. Hal ini biasanya terjadi akibat kurangnya perhitungan yang matang sebelum terjun ke lapangan.
Strategi Investasi Properti
1. Memandang Properti sebagai Maraton Finansial
Banyak orang keliru menganggap investasi properti sebagai skema cepat kaya. Padahal, instrumen ini merupakan permainan “napas panjang” yang membutuhkan stamina finansial luar biasa. Selain itu, logika keuangan selalu bekerja secara objektif. Jika Anda tidak menghitung potensi pendapatan dan biaya operasional secara akurat, aset tersebut justru akan menjadi beban.
Investor pemula juga sering terjebak dalam kondisi negative carry. Dalam situasi ini, kewajiban cicilan bank jauh melampaui pendapatan sewa bulanan. Sebagai hasilnya, investor harus mengalokasikan dana pribadi setiap bulan hanya untuk menutupi selisih tersebut. Tentu saja, kondisi ini dapat mengancam stabilitas arus kas jangka panjang Anda.
2. Mewaspadai Risiko Likuiditas dan Biaya Tersembunyi
Di sisi lain, properti memiliki karakteristik utama berupa likuiditas yang rendah. Berbeda dengan saham atau emas, Anda tidak dapat mencairkan properti menjadi uang tunai dalam waktu singkat. Akibatnya, saat kebutuhan mendesak muncul, proses penjualan aset bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga hitungan tahun.
Selain masalah likuiditas, investor harus memperhitungkan biaya operasional yang sering kali luput dari proyeksi awal. Biaya-biaya tersebut meliputi:
-
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tahunan.
-
Biaya pemeliharaan dan perbaikan fisik bangunan.
-
Iuran lingkungan atau service charge.
-
Risiko kekosongan unit yang menghentikan arus pendapatan.
3. Strategi Investasi Properti Dengan Mengutamakan Validitas Legalitas dan Lokasi
Keberhasilan investasi sangat bergantung pada ketepatan memilih lokasi dan validitas hukum. Oleh sebab itu, Anda sebaiknya tidak hanya mengandalkan janji pemasaran mengenai rencana pembangunan infrastruktur masa depan.
Masalah legalitas merupakan risiko terbesar yang dapat menghapuskan nilai investasi Anda seketika. Oleh karena itu, Anda wajib melakukan uji tuntas (due diligence) dokumen hukum ke kantor pertanahan. Langkah ini sangat krusial demi mengamankan modal yang telah Anda kumpulkan.
4. Mengelola Operasional dan Psikologi Investasi
Bisnis properti pada dasarnya adalah bisnis layanan yang sangat aktif. Oleh karena itu, Anda membutuhkan kemampuan manajerial untuk menangani penyewa secara profesional. Investor yang mengabaikan aspek operasional ini biasanya akan merasa terbebani secara mental dan finansial.
Selanjutnya, secara psikologis, Anda harus mewaspadai Sunken Cost Fallacy. Ini adalah kecenderungan mempertahankan aset yang merugi hanya karena merasa sudah keluar banyak modal. Meskipun sulit, Anda harus mengambil keputusan berdasarkan data, bukan berdasarkan keterikatan emosional pada bangunan fisik.
Investasi properti tetap menawarkan peluang menjanjikan bagi mereka yang memiliki strategi sehat. Namun, kebebasan finansial sejati hanya tumbuh dari literasi keuangan yang kuat, bukan dari tren yang sedang viral. Oleh karena itu, fokuslah meningkatkan nilai diri terlebih dahulu sebelum Anda memutuskan untuk mengelola aset dalam skala besar.
- Penulis: donny rosady
- Editor: creative dibahas.com

Saat ini belum ada komentar