Sepatu Bally yang Tak Terbeli dan Mas Kawin Berupa Buku: Membaca Ulang Isi Kepala Mohammad Hatta
- account_circle Utomo
- calendar_month 34 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

Jika kamu mencari sosok pahlawan yang hidupnya penuh dengan sorak-sorai dan pidato berapi-api yang menggetarkan stadion, kamu tidak akan menemukannya dalam diri Mohammad Hatta. Sebaliknya, Hatta adalah kesunyian yang bekerja. Ia adalah arsitek yang merancang fondasi rumah bernama Indonesia, sementara sahabatnya, Soekarno, bertugas membakar semangat orang-orang untuk membangunnya.
Banyak orang mengingat Hatta sekadar sebagai “Wakil Presiden Pertama” atau Bapak Koperasi. Padahal, jika kita membedah isi kepalanya melalui tulisan dan keputusan hidupnya, kita akan menemukan seorang intelektual radikal yang merelakan seluruh kenyamanan hidupnya demi satu hal: martabat manusia Indonesia.
Buku sebagai Separuh Napasnya
Untuk memahami Hatta, kita harus memahami hubungannya dengan buku. Saat para pejuang lain sibuk mengumpulkan senjata atau harta, Hatta mengumpulkan literatur. Ada satu kalimatnya yang sangat terkenal dan merangkum seluruh filosofi hidupnya: “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”
Baginya, kebodohan adalah bentuk penjajahan yang paling abadi. Hatta percaya bahwa bangsa ini tidak akan pernah benar-benar merdeka jika rakyatnya tidak terdidik. Obsesinya pada ilmu pengetahuan ini ia bawa hingga ke pelaminan. Ketika menikahi Rahmi Rachim, Hatta tidak memberikan emas atau perhiasan mahal sebagai mas kawin. Ia memberikan sebuah buku yang ia tulis sendiri berjudul Alam Pikiran Yunani.
Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar kaku atau bahkan pelit. Namun, bagi Hatta, itu adalah sumpah tertinggi. Ia ingin membangun keluarga—dan bangsa—yang berlandaskan kejujuran dan ilmu pengetahuan, bukan kemewahan materi.
Bukan Sekadar Merdeka, Tapi Kenyang dan Setara
Cita-cita Hatta untuk Indonesia jauh melampaui pengusiran penjajah Belanda. Pemikirannya berpusat pada satu kegelisahan besar: apa gunanya merdeka jika rakyat masih kelaparan dan ditindas oleh bangsanya sendiri?
Dari sinilah lahir gagasannya tentang Demokrasi Ekonomi. Hatta sangat membenci kapitalisme yang hanya memperkaya segelintir elite. Ia menggagas sistem ekonomi kerakyatan melalui Koperasi, dengan prinsip gotong royong dan kekeluargaan. Dalam kepalanya, demokrasi yang sejati bukanlah saat rakyat bebas mencoblos di bilik suara, melainkan saat setiap warga negara memiliki akses yang adil terhadap kesejahteraan ekonomi.
Keberanian Mengkritik Sahabat Sendiri
Satu hal yang membuat Hatta berdiri di kelasnya tersendiri adalah integritasnya yang tak bisa dibeli—bahkan oleh persahabatan. Hatta dan Soekarno adalah dwitunggal yang tak terpisahkan saat merebut kemerdekaan. Namun, ketika arah politik Soekarno di era Demokrasi Terpimpin mulai melenceng dan cenderung otoriter, Hatta memilih mundur dari jabatan Wakil Presiden pada 1956.
Ia tidak memberontak dengan mengangkat senjata. Hatta melawan dengan pena. Ia menulis esai legendaris berjudul Demokrasi Kita pada tahun 1960. Dalam tulisan itu, ia menelanjangi kegagalan sistem pemerintahan sahabatnya sendiri dengan sangat tajam dan elegan. Buku itu akhirnya dibredel, namun sejarah mencatat bahwa Hatta lebih mencintai kebenaran dan republik ini ketimbang jabatannya.
Integritas yang Dibawa Sampai Mati
Ada satu kutipan Bung Hatta yang rasanya masih menampar keras wajah bangsa kita hari ini: “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.”
Hatta tidak hanya merangkai kata; ia menghidupinya. Hingga akhir hayatnya, ia hidup dalam kesederhanaan yang nyaris tidak masuk akal untuk seorang pendiri negara. Ia pernah menolak komisaris di perusahaan-perusahaan besar, bahkan sempat kesulitan membayar tagihan listrik rumahnya sendiri di masa pensiun.
Di dompetnya yang usang saat ia wafat, keluarganya menemukan sebuah guntingan iklan sepatu merek Bally. Sepatu kulit itu sangat ia idamkan sejak lama, namun hingga ia mengembuskan napas terakhir, uang pensiunnya tak pernah cukup untuk membelinya.
Mohammad Hatta meninggal tanpa meninggalkan warisan harta berlimpah. Namun, guntingan iklan sepatu dan buku-buku usangnya meninggalkan pesan yang jauh lebih mahal: bahwa politik, pada bentuknya yang paling murni, adalah jalan pengabdian, bukan jalan pintas menuju kekayaan.
- Penulis: Utomo

Saat ini belum ada komentar