Lahir Tanpa Lengan, Balerina Muda Ini Inspirasi Ratusan Ribu Pengikutnya
- account_circle Erni Wijaya
- calendar_month Senin, 20 Jul 2026
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Vitória Bueno tidak pernah punya lengan. Sejak lahir di Santa Rita do Sapucaí, kota kecil di Brazil, ia hidup dengan kondisi genetik langka yang membuat kedua tangannya tidak terbentuk. Tapi itu tidak menghentikannya jadi penari balet — dan sekarang lebih dari 150 ribu orang mengikuti akun Instagramnya untuk melihat bagaimana ia melakukannya.
Kalau dipikir-pikir, balet mungkin salah satu cabang seni yang paling menuntut soal keseimbangan tubuh. Setiap gerakan mengandalkan simetri, momentum lengan, dan kontrol postur yang biasanya “dibantu” oleh ayunan tangan. Vitória membangun ulang semua itu dari nol, dengan caranya sendiri.
Ibunya, Wanda, pernah bercerita betapa beratnya masa kecil Vitória di kota kecil itu. Orang-orang suka berkumpul di depan rumah mereka hanya untuk melihat anaknya — bukan dengan niat jahat, tapi rasa penasaran yang, jujur saja, tetap menyakitkan buat keluarga yang menjalaninya. Di tengah situasi seperti itu, keinginan seorang anak kecil untuk jadi penari terdengar mustahil.
Tapi Vitória jalan terus. Ia belajar balet, jazz, sampai tap dance. Ditanya soal apa arti menari baginya, jawabannya sederhana: saat menari, ia merasa terhubung kuat dengan tubuhnya sendiri, fokus penuh, seolah tidak ada hal lain yang lebih penting. Bukan jawaban yang dibuat-buat untuk terdengar inspiratif — lebih terasa seperti pengalaman nyata seseorang yang menemukan tempatnya di dunia.
Yang menarik, Vitória tidak berhenti di titik “menari untuk diri sendiri”. Ia secara terbuka bicara soal representasi disabilitas di dunia balet profesional, dan blak-blakan mengakui kenyataan pahit: sampai sekarang, belum ada perusahaan balet profesional yang mempekerjakan penari dengan kondisi seperti dirinya. Ia tidak menutupi itu dengan basa-basi positif. Ia hanya percaya dunia balet seharusnya lebih terbuka, dan terus mendorong ke arah sana lewat setiap video yang ia unggah.
Pesannya sendiri padat, tidak butuh dibumbui: “Kami jauh lebih besar daripada disabilitas kami.” Kalimat itu bukan slogan motivasi generik — ia datang dari seseorang yang benar-benar hidup dengan pertanyaan “bisa nggak sih aku melakukan ini” setiap hari, dan menjawabnya lewat panggung, bukan lewat kata-kata semata.
Cerita Vitória relevan bukan cuma karena ia “menang melawan keterbatasan” — cerita seperti itu sudah terlalu sering diceritakan dengan cara yang justru mereduksi orang dengan disabilitas jadi simbol motivasi belaka. Yang membuat kisahnya beda adalah caranya menolak dikasihani sambil tetap jujur soal beratnya perjuangan itu. Ia tidak bilang semuanya mudah. Ia hanya menari, dan membiarkan orang lain menyimpulkan sendiri.
Untuk pembaca yang bergelut dengan keraguan soal kemampuan diri sendiri — entah karena kondisi fisik, latar belakang, atau sekadar rasa tidak percaya diri — kisah Vitória adalah pengingat kecil bahwa batasan yang kelihatannya paling nyata pun kadang cuma soal menemukan cara lain untuk bergerak maju.
sumber : instagram @victoriabuenoofficial, CNBC
- Penulis: Erni Wijaya

Saat ini belum ada komentar