Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Fenomena 45 Ribu Sarjana Putus Asa Cari Kerja: Gelar Tinggi, Tapi Kok Susah Dapat Kerja?

Fenomena 45 Ribu Sarjana Putus Asa Cari Kerja: Gelar Tinggi, Tapi Kok Susah Dapat Kerja?

  • account_circle donny rosady
  • calendar_month 12 jam yang lalu
  • visibility 6
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Isu struktural Sarjana Putus Asa Cari Kerja di awal tahun kembali menjadi pusat perhatian publik. Hasil riset terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia mengungkap realitas pahit di balik statistik ketenagakerjaan: melonjaknya jumlah “penduduk putus asa” (discouraged workers).

Kondisi ini memicu diskusi mendalam mengenai relevansi pendidikan tinggi dengan ketersediaan lapangan kerja di tanah air.

Lonjakan Angka “Penduduk Putus Asa”

Dalam sebuah sesi wawancara, ekonom sekaligus peneliti LPEM FEB UI, Jahen Rezki, membedah data yang menunjukkan tren kenaikan penduduk putus asa dari 1,68 juta menjadi 1,87 juta orang dalam setahun terakhir.

Kelompok ini mencakup individu yang telah berupaya keras mencari kerja, namun akhirnya berhenti karena merasa peluang bagi mereka sudah tertutup. Berdasarkan tingkat pendidikan, data tersebut mencatat angka yang memprihatinkan:

  • 45.000 lulusan Sarjana (S1) masuk kategori putus asa.

  • 6.000 lulusan Pascasarjana (S2/S3) mengalami nasib serupa.

“Secara teoritis, pendidikan tinggi seharusnya menjamin kemudahan seseorang mendapatkan pekerjaan. Namun faktanya, sektor ekonomi saat ini masih didominasi sektor tradisional yang belum membutuhkan kualifikasi keahlian tinggi,” ujar Jahen.

Akar Masalah: Skill Mismatch dan Jebakan Sektor Informal

Jahen menekankan bahwa akar permasalahan terletak pada ketidaksesuaian keahlian (skill mismatch). Dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum yang belum sejalan dengan kebutuhan dinamis dunia industri.

Selain itu, transisi lulusan sarjana ke pekerjaan informal—seperti pengemudi transportasi daring—menjadi “jebakan produktivitas” jangka panjang. Meskipun memberikan penghasilan instan, sektor informal tidak menawarkan perlindungan sosial dan nilai tambah optimal bagi pertumbuhan ekonomi makro.

“Pemerintah harus mengalihkan fokus dari sekadar angka kuantitas pengangguran menuju penciptaan lapangan kerja berkualitas,” tegasnya.

Daya Serap Investasi yang Menurun

Diskusi ini juga menyoroti penurunan drastis kemampuan investasi dalam menyerap tenaga kerja. Jika satu dekade lalu investasi senilai Rp1 triliun mampu menyerap hingga 2.500 tenaga kerja, kini angka tersebut merosot ke kisaran 1.200 orang.

Hambatan non-ekonomi, seperti praktik pungutan liar (bribery incidence) yang mencapai 30% pada perusahaan besar, turut menghambat ekspansi dunia usaha. Hal inilah yang menyebabkan minimnya pembukaan lowongan kerja baru yang berkualitas.

Langkah Strategis Menuju Solusi

Untuk memutus rantai keputusasaan para lulusan terdidik, LPEM UI menawarkan beberapa catatan kritis bagi pemerintah dan institusi pendidikan:

  • Integrasi Kurikulum dan Industri: Melibatkan sektor swasta dan manufaktur global dalam menyusun kurikulum agar tercipta keselarasan keahlian.

  • Menciptakan Ekosistem Bisnis yang Sehat: Menjamin kepastian hukum (rule of law) agar pelaku usaha berani melakukan ekspansi besar-besaran.

  • Investasi pada Modal Manusia: Memperkuat program upskilling dan reskilling yang relevan dengan perkembangan teknologi masa kini.

  • Fasilitasi Mobilitas Global: Membuka akses bagi tenaga kerja muda terampil untuk berkompetisi di pasar kerja internasional.

“Tugas pemerintah adalah menjadi regulator yang menciptakan ekosistem kondusif. Jika dunia usaha berkembang tanpa gangguan regulasi yang tidak perlu, kapasitas penyerapan tenaga kerja pasti akan meningkat kembali,” tutup Jahen.

Sobat dibahas, bagaimana pendapat Anda mengenai fenomena Sarjana Putus Asa Cari Kerja ini? Apakah kurikulum pendidikan saat ini sudah menjawab kebutuhan dunia kerja? Sampaikan opini Anda di kolom komentar.

  • Penulis: donny rosady
  • Editor: creative dibahas.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bahaya Rokok Elektrik

    Bahaya Rokok Elektrik bagi Kesehatan

    • calendar_month Rabu, 16 Jul 2025
    • account_circle Utomo
    • visibility 779
    • 0Komentar

    Rokok elektrik, atau yang sering disebut vape, semakin populer di kalangan remaja dan dewasa muda. Banyak orang beralih dari rokok konvensional ke rokok elektrik dengan asumsi bahwa produk ini lebih aman. Namun, apakah benar rokok elektrik bebas risiko? Ternyata, sejumlah penelitian membuktikan bahwa rokok elektrik tetap memiliki potensi bahaya yang tidak boleh diabaikan. Bahaya rokok […]

  • iklan Marjan 2026 15 detik Play Button

    “Marvel-nya Indonesia” kembali, trailer iklan Marjan 2026 resmi dirilis

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 46
    • 0Komentar

    Jakarta – Meski bulan Ramadhan belum tiba, “hilal” pertama sudah menampakkan diri di YouTube Marjan Boudoin. Bukan di langit, melainkan di kolom trending. Marjan akhirnya merilis Trailer 1 untuk iklan tahun 2026, dan dalam hitungan jam, video ini langsung memicu perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Tahun ini, Marjan membuktikan bahwa mereka bukan sekadar […]

  • Strategi Dagang 2026

    Menakar Peluang Bisnis 2026: Mengapa Konsumen Kini Memilih Fungsi daripada Gengsi?

    • calendar_month 11 jam yang lalu
    • account_circle donny rosady
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Tahun 2026 menandai transformasi besar dalam dunia perdagangan global. Saat ini, masyarakat mulai jenuh dengan gempuran iklan yang hanya menjual janji manis atau tren sesaat. Oleh karena itu, konsumen kini bertransformasi menjadi sosok yang jauh lebih rasional dan mengutamakan manfaat nyata dari setiap rupiah yang mereka keluarkan. Untuk itu diperlukan Strategi Dagang 2026 yang tepat […]

  • Suzuki Access 125 2026

    Suzuki Access 125 2026: Skuter Retro dengan Fitur Keselamatan ABS

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Pada awal 2026, Suzuki Access 125 semakin memperkuat posisinya sebagai skuter “Classic Commuter” nomor satu. Meskipun tren motor listrik terus meningkat, Suzuki tetap optimis meluncurkan varian Single-Channel ABS pada Februari 2026 untuk menjamin keselamatan pengendara. Performa Mesin SEP dan Teknologi Digital Selain itu, Suzuki menyematkan mesin 124 cc berteknologi Suzuki Eco Performance (SEP) yang sangat bertenaga. […]

  • Ayam Goreng dan Sop Buntut Pak Supar Play Button

    Ayam Goreng dan Sop Buntut Pak Supar, Legenda Kuliner Semarang Yang Selalu Bikin Nagih

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Jika anda yang sedang berkunjung ke Kota Semarang tetapi mulai merasa bosan dengan lunpia atau bandeng presto? Anda wajib mengarahkan kemudi menuju salah satu lokasi Kuliner Legenda di Kota Semarang, Ayam Goreng dan Sop Buntut Pak Supar Semarang. Atau orang biasa menyebutnya Restoran Ayam Goreng Pak Supar. Restoran legendaris ini menempati bangunan di Jalan Moh. […]

  • George Henry Bissell : Pengubah Cairan Aneh Menjadi Harta Karun Dunia

    George Henry Bissell : Pengubah Cairan Aneh Menjadi Harta Karun Dunia

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Dedi
    • visibility 11
    • 0Komentar

    Di pertengahan abad ke -19, minyak bumi yang kita kenal sekarang cuma dipakai sebagai obat tradisional dan pelumas sederhana bahkan dianggap sebagai gangguan yang mencemari tanah bagi kebanyakan orang, orang di abad itu tidak tahu kalau minyak bumi bisa jadi komoditi paling menggiurkan dan menjadi barang yang sangat berharga di masa depan. Munculah George Henry […]

expand_less