Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Fenomena 45 Ribu Sarjana Putus Asa Cari Kerja: Gelar Tinggi, Tapi Kok Susah Dapat Kerja?

Fenomena 45 Ribu Sarjana Putus Asa Cari Kerja: Gelar Tinggi, Tapi Kok Susah Dapat Kerja?

  • account_circle donny rosady
  • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
  • visibility 85
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Isu struktural Sarjana Putus Asa Cari Kerja di awal tahun kembali menjadi pusat perhatian publik. Hasil riset terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia mengungkap realitas pahit di balik statistik ketenagakerjaan: melonjaknya jumlah “penduduk putus asa” (discouraged workers).

Kondisi ini memicu diskusi mendalam mengenai relevansi pendidikan tinggi dengan ketersediaan lapangan kerja di tanah air.

Lonjakan Angka “Penduduk Putus Asa”

Dalam sebuah sesi wawancara, ekonom sekaligus peneliti LPEM FEB UI, Jahen Rezki, membedah data yang menunjukkan tren kenaikan penduduk putus asa dari 1,68 juta menjadi 1,87 juta orang dalam setahun terakhir.

Kelompok ini mencakup individu yang telah berupaya keras mencari kerja, namun akhirnya berhenti karena merasa peluang bagi mereka sudah tertutup. Berdasarkan tingkat pendidikan, data tersebut mencatat angka yang memprihatinkan:

  • 45.000 lulusan Sarjana (S1) masuk kategori putus asa.

  • 6.000 lulusan Pascasarjana (S2/S3) mengalami nasib serupa.

“Secara teoritis, pendidikan tinggi seharusnya menjamin kemudahan seseorang mendapatkan pekerjaan. Namun faktanya, sektor ekonomi saat ini masih didominasi sektor tradisional yang belum membutuhkan kualifikasi keahlian tinggi,” ujar Jahen.

Akar Masalah: Skill Mismatch dan Jebakan Sektor Informal

Jahen menekankan bahwa akar permasalahan terletak pada ketidaksesuaian keahlian (skill mismatch). Dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum yang belum sejalan dengan kebutuhan dinamis dunia industri.

Selain itu, transisi lulusan sarjana ke pekerjaan informal—seperti pengemudi transportasi daring—menjadi “jebakan produktivitas” jangka panjang. Meskipun memberikan penghasilan instan, sektor informal tidak menawarkan perlindungan sosial dan nilai tambah optimal bagi pertumbuhan ekonomi makro.

“Pemerintah harus mengalihkan fokus dari sekadar angka kuantitas pengangguran menuju penciptaan lapangan kerja berkualitas,” tegasnya.

Daya Serap Investasi yang Menurun

Diskusi ini juga menyoroti penurunan drastis kemampuan investasi dalam menyerap tenaga kerja. Jika satu dekade lalu investasi senilai Rp1 triliun mampu menyerap hingga 2.500 tenaga kerja, kini angka tersebut merosot ke kisaran 1.200 orang.

Hambatan non-ekonomi, seperti praktik pungutan liar (bribery incidence) yang mencapai 30% pada perusahaan besar, turut menghambat ekspansi dunia usaha. Hal inilah yang menyebabkan minimnya pembukaan lowongan kerja baru yang berkualitas.

Langkah Strategis Menuju Solusi

Untuk memutus rantai keputusasaan para lulusan terdidik, LPEM UI menawarkan beberapa catatan kritis bagi pemerintah dan institusi pendidikan:

  • Integrasi Kurikulum dan Industri: Melibatkan sektor swasta dan manufaktur global dalam menyusun kurikulum agar tercipta keselarasan keahlian.

  • Menciptakan Ekosistem Bisnis yang Sehat: Menjamin kepastian hukum (rule of law) agar pelaku usaha berani melakukan ekspansi besar-besaran.

  • Investasi pada Modal Manusia: Memperkuat program upskilling dan reskilling yang relevan dengan perkembangan teknologi masa kini.

  • Fasilitasi Mobilitas Global: Membuka akses bagi tenaga kerja muda terampil untuk berkompetisi di pasar kerja internasional.

“Tugas pemerintah adalah menjadi regulator yang menciptakan ekosistem kondusif. Jika dunia usaha berkembang tanpa gangguan regulasi yang tidak perlu, kapasitas penyerapan tenaga kerja pasti akan meningkat kembali,” tutup Jahen.

Sobat dibahas, bagaimana pendapat Anda mengenai fenomena Sarjana Putus Asa Cari Kerja ini? Apakah kurikulum pendidikan saat ini sudah menjawab kebutuhan dunia kerja? Sampaikan opini Anda di kolom komentar.

  • Penulis: donny rosady
  • Editor: creative dibahas.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kencing Berbusa

    Kencing Berbusa: Apakah Tanda Ginjal Rusak? Mitos & Fakta Tentang Buah Penyembuh

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Pernahkah Anda melihat kencing yang berbusa saat sedang di toilet? Banyak kabar burung di media sosial menyebutkan bahwa kondisi ini merupakan tanda pasti gagal ginjal. Bahkan, ada klaim yang menyatakan bahwa buah-buahan tertentu sanggup “menyembuhkan” ginjal yang sudah rusak. 1. Apakah Kencing Berbusa Selalu Berarti Ginjal Rusak? Kabar baiknya: Tidak selalu. Beberapa hal normal berikut […]

  • Kisah di Balik Polemik “Desil” yang Bikin Warga Kaget

    Kisah di Balik Polemik “Desil” yang Bikin Warga Kaget

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle Utomo
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Bayangkan perasaan Sulis (62), seorang lansia pemulung asal Surabaya yang tinggal di sebuah rumah petak berukuran 4×3 meter beratapkan seng. Selama tiga tahun lamanya, ia harus berjuang tanpa uluran bantuan sosial (bansos). Usut punya usut, bukan karena ia tidak miskin, melainkan karena namanya tercatat di Desil 7—sebuah kategori yang di atas kertas menggolongkannya sebagai warga […]

  • Tradisi Mengecat Rumah Menyambut Lebaran

    Tradisi Mengecat Ulang Rumah Menjelang Lebaran: Tren Warna & Tips Memilih Cat di Tahun 2026

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Utomo
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Indonesia rutin menjalankan tradisi unik: berbenah rumah. Selain membersihkan perabotan, banyak orang yang juga melakukan Tradisi Mengecat Rumah Menyambut Lebaran. Langkah ini terbukti ampuh menyulap hunian menjadi segar dan bersih saat menyambut sanak saudara yang datang bersilaturahmi. Mengapa tradisi ini begitu melekat? Secara simbolis, cat baru mewakili semangat pembaharuan […]

  • iklan Marjan 2026 15 detik Play Button

    “Marvel-nya Indonesia” kembali, trailer iklan Marjan 2026 resmi dirilis

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Jakarta – Meski bulan Ramadhan belum tiba, “hilal” pertama sudah menampakkan diri di YouTube Marjan Boudoin. Bukan di langit, melainkan di kolom trending. Marjan akhirnya merilis Trailer 1 untuk iklan tahun 2026, dan dalam hitungan jam, video ini langsung memicu perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Tahun ini, Marjan membuktikan bahwa mereka bukan sekadar […]

  • Rekap MotoGP Mandalika 2026: Rekor 157 Ribu Penonton dan Kudeta Puncak Klasemen

    Rekap MotoGP Mandalika 2026: Rekor 157 Ribu Penonton dan Kudeta Puncak Klasemen

    • calendar_month Rabu, 14 Okt 2026
    • account_circle Utomo
    • visibility 5
    • 0Komentar

    ​Sirkuit Internasional Mandalika baru saja merampungkan agenda Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 pada Minggu (11/10). Penyelenggaraan tahun ini mencatatkan sejumlah rekor penting, mulai dari kejutan di atas lintasan hingga lonjakan metrik penonton yang berdampak masif pada perputaran ekonomi lokal. ​Secara teknis, seri Mandalika 2026 menjadi panggung pembuktian bagi Aprilia. Pabrikan asal Noale tersebut mencetak […]

  • Sejarah Penemuan Uranium

    Sejarah Penemuan Uranium dan Transformasinya Menjadi Kekuatan Dunia

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Uranium memegang peran krusial dalam sejarah energi nuklir dan teknologi persenjataan modern. Sebelum ilmuwan memanfaatkannya sebagai sumber listrik, elemen ini merupakan mineral tersembunyi yang belum terjamah manusia. Artikel ini mengulas sejarah penemuan uranium secara mendalam, menelusuri evolusinya dari sekadar eksperimen kimia hingga menjadi instrumen perubahan sejarah dunia. Awal Mula: Penemuan Martin Heinrich Klaproth Sejarah penemuan […]

expand_less