Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Fenomena 45 Ribu Sarjana Putus Asa Cari Kerja: Gelar Tinggi, Tapi Kok Susah Dapat Kerja?

Fenomena 45 Ribu Sarjana Putus Asa Cari Kerja: Gelar Tinggi, Tapi Kok Susah Dapat Kerja?

  • account_circle donny rosady
  • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
  • visibility 57
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Isu struktural Sarjana Putus Asa Cari Kerja di awal tahun kembali menjadi pusat perhatian publik. Hasil riset terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia mengungkap realitas pahit di balik statistik ketenagakerjaan: melonjaknya jumlah “penduduk putus asa” (discouraged workers).

Kondisi ini memicu diskusi mendalam mengenai relevansi pendidikan tinggi dengan ketersediaan lapangan kerja di tanah air.

Lonjakan Angka “Penduduk Putus Asa”

Dalam sebuah sesi wawancara, ekonom sekaligus peneliti LPEM FEB UI, Jahen Rezki, membedah data yang menunjukkan tren kenaikan penduduk putus asa dari 1,68 juta menjadi 1,87 juta orang dalam setahun terakhir.

Kelompok ini mencakup individu yang telah berupaya keras mencari kerja, namun akhirnya berhenti karena merasa peluang bagi mereka sudah tertutup. Berdasarkan tingkat pendidikan, data tersebut mencatat angka yang memprihatinkan:

  • 45.000 lulusan Sarjana (S1) masuk kategori putus asa.

  • 6.000 lulusan Pascasarjana (S2/S3) mengalami nasib serupa.

“Secara teoritis, pendidikan tinggi seharusnya menjamin kemudahan seseorang mendapatkan pekerjaan. Namun faktanya, sektor ekonomi saat ini masih didominasi sektor tradisional yang belum membutuhkan kualifikasi keahlian tinggi,” ujar Jahen.

Akar Masalah: Skill Mismatch dan Jebakan Sektor Informal

Jahen menekankan bahwa akar permasalahan terletak pada ketidaksesuaian keahlian (skill mismatch). Dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum yang belum sejalan dengan kebutuhan dinamis dunia industri.

Selain itu, transisi lulusan sarjana ke pekerjaan informal—seperti pengemudi transportasi daring—menjadi “jebakan produktivitas” jangka panjang. Meskipun memberikan penghasilan instan, sektor informal tidak menawarkan perlindungan sosial dan nilai tambah optimal bagi pertumbuhan ekonomi makro.

“Pemerintah harus mengalihkan fokus dari sekadar angka kuantitas pengangguran menuju penciptaan lapangan kerja berkualitas,” tegasnya.

Daya Serap Investasi yang Menurun

Diskusi ini juga menyoroti penurunan drastis kemampuan investasi dalam menyerap tenaga kerja. Jika satu dekade lalu investasi senilai Rp1 triliun mampu menyerap hingga 2.500 tenaga kerja, kini angka tersebut merosot ke kisaran 1.200 orang.

Hambatan non-ekonomi, seperti praktik pungutan liar (bribery incidence) yang mencapai 30% pada perusahaan besar, turut menghambat ekspansi dunia usaha. Hal inilah yang menyebabkan minimnya pembukaan lowongan kerja baru yang berkualitas.

Langkah Strategis Menuju Solusi

Untuk memutus rantai keputusasaan para lulusan terdidik, LPEM UI menawarkan beberapa catatan kritis bagi pemerintah dan institusi pendidikan:

  • Integrasi Kurikulum dan Industri: Melibatkan sektor swasta dan manufaktur global dalam menyusun kurikulum agar tercipta keselarasan keahlian.

  • Menciptakan Ekosistem Bisnis yang Sehat: Menjamin kepastian hukum (rule of law) agar pelaku usaha berani melakukan ekspansi besar-besaran.

  • Investasi pada Modal Manusia: Memperkuat program upskilling dan reskilling yang relevan dengan perkembangan teknologi masa kini.

  • Fasilitasi Mobilitas Global: Membuka akses bagi tenaga kerja muda terampil untuk berkompetisi di pasar kerja internasional.

“Tugas pemerintah adalah menjadi regulator yang menciptakan ekosistem kondusif. Jika dunia usaha berkembang tanpa gangguan regulasi yang tidak perlu, kapasitas penyerapan tenaga kerja pasti akan meningkat kembali,” tutup Jahen.

Sobat dibahas, bagaimana pendapat Anda mengenai fenomena Sarjana Putus Asa Cari Kerja ini? Apakah kurikulum pendidikan saat ini sudah menjawab kebutuhan dunia kerja? Sampaikan opini Anda di kolom komentar.

  • Penulis: donny rosady
  • Editor: creative dibahas.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • kantong belanja berbahan singkong

    Inovasi Berkelanjutan: Mengenal Kantong Belanja Berbahan Singkong sebagai Solusi Ramah Lingkungan

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Masyarakat kini semakin menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Sebagai langkah nyata untuk menekan penggunaan plastik sekali pakai, sebuah inovasi hadir dari wilayah Tangerang. Sebuah pabrik lokal memproduksi kantong belanja berbahan singkong yang menawarkan solusi cerdas bagi isu sampah global. Produk ini menggabungkan aspek fungsionalitas tinggi dengan prinsip keberlanjutan yang kuat. Langkah Nyata Menekan Dampak […]

  • koi talk magazine

    Bedah Kelebihan Koi Talk Magazine: Kanal Wajib bagi Pecinta Ikan Koi Dunia

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Memelihara ikan koi sebenarnya bukan sekadar mengisi kolam dengan ikan berwarna-warni, melainkan sebuah perpaduan antara seni, biologi air, dan ketenangan pikiran. Oleh karena itu, di tengah membanjirnya konten hobi di media sosial, channel YouTube Koi Talk Magazine hadir sebagai referensi utama yang menawarkan kedalaman informasi bagi para penghobi. Sebagai perpanjangan dari majalah cetak bulanan asal […]

  • Film Na Willa

    Ulasan Film Terbaru, “Na Willa”: Menyelami Kehangatan Masa Kecil

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Layar bioskop Indonesia kini menyambut kehadiran film Na Willa dengan penuh kehangatan. Karya terbaru garapan Visinema Studios ini mengadaptasi buku populer milik Reda Gaudiamo. Selain menawarkan cerita yang menyentuh, film ini juga membawa kita kembali ke atmosfer Surabaya pada tahun 1960-an yang sangat autentik. Dedikasi Artistik di Balik Proses Produksi Sutradara Ryan Adriandhy memimpin proyek […]

  • De'Savanna Restaurant

    Sensasi Makan Ditemani Satwa Afrika di De’Savanna Restaurant Puncak

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Jalan-jalan ke Puncak pasti ujung-ujungnya mencari tempat makan yang enak dan punya pemandangan bagus. Tapi, bosan nggak sih kalau pemandangannya hanya kebun teh lagi dan kebun teh lagi? Nah, kali ini aku mau mengajak kamu mampir ke spot kuliner super unik yang berada tepat di dalam area Royal Safari Garden Cisarua: De’Savanna Restaurant. Tempat ini […]

  • Land Rover Defender Pemkot Samarinda

    Disewa 160jt per Bulan oleh Pemkot Samarinda, Simak Detail Spesifikasi dan Harga Land Rover Defender

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Dunia maya belakangan ini riuh oleh perbincangan hangat mengenai pengadaan kendaraan operasional Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda. Sebuah unit SUV legendaris, Land Rover Defender yang disewa Pemkot Samarinda, mendadak viral lantaran nilai sewanya yang dianggap cukup fantastis oleh sebagian kalangan masyarakat. Angka Rp160 juta per bulan atau total sekitar Rp5,76 miliar dalam kurun waktu tiga tahun […]

  • Ekspor Otomotif China 2026

    Ekspor Otomotif China 2026 Melonjak Tajam: Kendaraan Listrik Jadi Motor Utama

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 27
    • 0Komentar

    Industri otomotif China mencatatkan performa yang sangat luar biasa pada awal tahun 2026. Hal ini terlihat dari data terbaru Asosiasi Produsen Mobil China (CAAM) yang menunjukkan bahwa pasar otomotif di Negeri Tirai Bambu tersebut berhasil membukukan lonjakan produksi dan penjualan. Selain itu, tren ekspor juga terus tumbuh pesat sepanjang kuartal pertama tahun ini. Oleh karena […]

expand_less