Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Fenomena 45 Ribu Sarjana Putus Asa Cari Kerja: Gelar Tinggi, Tapi Kok Susah Dapat Kerja?

Fenomena 45 Ribu Sarjana Putus Asa Cari Kerja: Gelar Tinggi, Tapi Kok Susah Dapat Kerja?

  • account_circle donny rosady
  • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
  • visibility 16
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Isu struktural Sarjana Putus Asa Cari Kerja di awal tahun kembali menjadi pusat perhatian publik. Hasil riset terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia mengungkap realitas pahit di balik statistik ketenagakerjaan: melonjaknya jumlah “penduduk putus asa” (discouraged workers).

Kondisi ini memicu diskusi mendalam mengenai relevansi pendidikan tinggi dengan ketersediaan lapangan kerja di tanah air.

Lonjakan Angka “Penduduk Putus Asa”

Dalam sebuah sesi wawancara, ekonom sekaligus peneliti LPEM FEB UI, Jahen Rezki, membedah data yang menunjukkan tren kenaikan penduduk putus asa dari 1,68 juta menjadi 1,87 juta orang dalam setahun terakhir.

Kelompok ini mencakup individu yang telah berupaya keras mencari kerja, namun akhirnya berhenti karena merasa peluang bagi mereka sudah tertutup. Berdasarkan tingkat pendidikan, data tersebut mencatat angka yang memprihatinkan:

  • 45.000 lulusan Sarjana (S1) masuk kategori putus asa.

  • 6.000 lulusan Pascasarjana (S2/S3) mengalami nasib serupa.

“Secara teoritis, pendidikan tinggi seharusnya menjamin kemudahan seseorang mendapatkan pekerjaan. Namun faktanya, sektor ekonomi saat ini masih didominasi sektor tradisional yang belum membutuhkan kualifikasi keahlian tinggi,” ujar Jahen.

Akar Masalah: Skill Mismatch dan Jebakan Sektor Informal

Jahen menekankan bahwa akar permasalahan terletak pada ketidaksesuaian keahlian (skill mismatch). Dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum yang belum sejalan dengan kebutuhan dinamis dunia industri.

Selain itu, transisi lulusan sarjana ke pekerjaan informal—seperti pengemudi transportasi daring—menjadi “jebakan produktivitas” jangka panjang. Meskipun memberikan penghasilan instan, sektor informal tidak menawarkan perlindungan sosial dan nilai tambah optimal bagi pertumbuhan ekonomi makro.

“Pemerintah harus mengalihkan fokus dari sekadar angka kuantitas pengangguran menuju penciptaan lapangan kerja berkualitas,” tegasnya.

Daya Serap Investasi yang Menurun

Diskusi ini juga menyoroti penurunan drastis kemampuan investasi dalam menyerap tenaga kerja. Jika satu dekade lalu investasi senilai Rp1 triliun mampu menyerap hingga 2.500 tenaga kerja, kini angka tersebut merosot ke kisaran 1.200 orang.

Hambatan non-ekonomi, seperti praktik pungutan liar (bribery incidence) yang mencapai 30% pada perusahaan besar, turut menghambat ekspansi dunia usaha. Hal inilah yang menyebabkan minimnya pembukaan lowongan kerja baru yang berkualitas.

Langkah Strategis Menuju Solusi

Untuk memutus rantai keputusasaan para lulusan terdidik, LPEM UI menawarkan beberapa catatan kritis bagi pemerintah dan institusi pendidikan:

  • Integrasi Kurikulum dan Industri: Melibatkan sektor swasta dan manufaktur global dalam menyusun kurikulum agar tercipta keselarasan keahlian.

  • Menciptakan Ekosistem Bisnis yang Sehat: Menjamin kepastian hukum (rule of law) agar pelaku usaha berani melakukan ekspansi besar-besaran.

  • Investasi pada Modal Manusia: Memperkuat program upskilling dan reskilling yang relevan dengan perkembangan teknologi masa kini.

  • Fasilitasi Mobilitas Global: Membuka akses bagi tenaga kerja muda terampil untuk berkompetisi di pasar kerja internasional.

“Tugas pemerintah adalah menjadi regulator yang menciptakan ekosistem kondusif. Jika dunia usaha berkembang tanpa gangguan regulasi yang tidak perlu, kapasitas penyerapan tenaga kerja pasti akan meningkat kembali,” tutup Jahen.

Sobat dibahas, bagaimana pendapat Anda mengenai fenomena Sarjana Putus Asa Cari Kerja ini? Apakah kurikulum pendidikan saat ini sudah menjawab kebutuhan dunia kerja? Sampaikan opini Anda di kolom komentar.

  • Penulis: donny rosady
  • Editor: creative dibahas.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Vidi Aldiano Meninggal

    Berita Duka: Vidi Aldiano Tutup Usia, Indonesia Kehilangan Salah Satu Putra Terbaik di Bidang Musik

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 19
    • 0Komentar

    JAKARTA – Industri hiburan Tanah Air kembali menerima kabar duka mendalam. Penyanyi berbakat Vidi Aldiano telah berpulang ke Rahmatullah hari ini, Sabtu, 7 Maret 2026. Pria bernama lengkap Oxavia Aldiano ini mengembuskan napas terakhirnya pada usia 35 tahun. Kepergian beliau menyisakan kesedihan bagi keluarga, sahabat, dan seluruh penggemar. Publik mengenal Vidi bukan hanya karena kualitas […]

  • Tamiya Mini 4WD

    Lebih dari Sekadar Mainan, Inilah Perjalanan Hobi Tamiya Mini 4WD dari Masa ke Masa

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Bagi generasi yang tumbuh di era 90-an, suara mesin yang mendengung di atas lintasan plastik pasti memicu nostalgia. Tamiya Mini 4WD bukan sekadar mobil-mobilan bermesin baterai. Ia adalah simbol kreativitas, teknik, dan semangat kompetisi yang melintasi zaman. Meski banyak yang menganggapnya sebagai tren musiman, hobi ini nyatanya tetap eksis. Bahkan, Tamiya kini bertransformasi menjadi olahraga […]

  • bahagia itu sederhana

    All You Need is Less: Bahagia Itu Sederhana, Kurangi Semua Hal Yang Tidak Diperlukan

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Pernahkah Anda merasa lelah dengan jargon “Gaspol!” atau “Kerja Keras Bagai Kuda” yang terus didengungkan? Sering kali, kita terjebak dalam ambisi untuk memiliki segalanya, mulai dari karier cemerlang hingga barang mewah. Namun, pertanyaannya adalah: apakah semua tambahan itu benar-benar membuat kita bahagia? Banyak orang berpendapat bahwa bahagia itu sederhana, apakah benar adanya? Simak artikel berikut […]

  • desain interior

    Sambut Lebaran dengan Wajah Baru: Panduan Menata Rumah Bersama Desainer Interior

    • calendar_month 21 jam yang lalu
    • account_circle Utomo
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Lebaran selalu membawa semangat tersendiri bagi kita untuk berbenah. Kita ingin merapikan desain interior rumah, mengganti suasana ruang tamu, hingga memastikan setiap sudut hunian terasa nyaman saat kerabat berkunjung nanti. Namun, mendekorasi ulang rumah di tengah kesibukan sehari-hari sering kali menguras tenaga. Belum lagi risiko salah pilih furnitur atau layout yang membuat ruangan terasa sempit. […]

  • Strategi Investasi Properti

    Jangan Tertipu Flexing! Waspada Sisi Gelap Investasi Properti yang Bisa Bikin Bangkrut Total

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Media sosial saat ini sering kali menampilkan narasi keberhasilan investasi properti yang tampak sangat mudah. Sebagai contoh, kita kerap melihat konten tentang individu yang membangun portofolio besar dalam waktu singkat. Namun, calon investor yang bijak harus melihat melampaui tampilan tersebut, memahami dinamika industri yang sebenarnya dan mengetahui Strategi Investasi Properti terbaik. Secara investigatif, banyak narasi […]

  • kelelahan mental

    Sering Capek Padahal Tak Banyak Aktivitas? Bisa Jadi Ini Tanda Kelelahan Mental.

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Irawan
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Banyak orang menganggap rasa capek selalu berkaitan dengan aktivitas fisik yang padat. Namun, bagaimana jika rasa lelah tetap datang meski Anda tidak melakukan banyak hal seharian? Anda mungkin bangun tidur dalam keadaan mengantuk, sulit fokus, serta merasa emosi lebih sensitif. Masyarakat kerap menganggap kondisi ini wajar, padahal hal tersebut merupakan tanda nyata kelelahan mental. Ketahui […]

expand_less