Lupakan Ranking, Ini Yang Sebenarnya Dibutuhkan Anak Indonesia
- account_circle donny rosady
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Menghapus Batasan Ranking: 3 Pilar Mempersiapkan Masa Depan Anak
Bagaimana seharusnya kita mempersiapkan masa depan anak melalui pendidikan yang tepat? Sudah terlalu lama kita menjawabnya dengan satu cara: angka. Konkretnya, kita mengandalkan nilai rapor, peringkat kelas, dan skor ujian. Padahal, pertanyaannya sederhana — apakah semua itu benar-benar menjamin masa depan mereka?
Di Iso-Late Show, Grace Tahir berbincang dengan Pak Fauzan, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Kemendikti Saintek RI. Selain itu, Pak Fauzan bukan akademisi biasa: 11 tahun di Oxford, lalu mendirikan perusahaan teknologi bernilai triliunan rupiah. Oleh karena itu, pesannya lugas — berhenti mengejar ranking, mulai bangun talenta yang utuh.
1. Pendidikan Berbasis Minat
Sistem konvensional memaksa semua anak menguasai hal yang sama dengan standar seragam. Akibatnya, potensi unik tiap anak sering kali terkubur sejak dini.
Dalam ilmu fisika, ada analogi yang relevan: kapasitas energi anak bersifat konstan. Artinya, kalau seorang anak tidak menonjol di matematika, mungkin energinya tersalur ke olahraga, seni, atau kemampuan sosial. Dengan kata lain, bukan berarti ia tidak pintar.
Sementara itu, Finlandia dan Norwegia sudah membuktikan pendekatan berbeda ini puluhan tahun lalu. Di sana, sekolah mendesain proses belajar mengikuti minat dan umpan balik tiap siswa — bukan template seragam. Hasilnya, kedua negara itu kini punya indeks kebahagiaan dan kualitas pendidikan yang tinggi.
2. Leadership dari Hal Kecil di Rumah
Banyak orang tua mengira kepemimpinan hanya bisa dipelajari di organisasi sekolah. Namun, Pak Fauzan mengutip studi jangka panjang dengan temuan yang mengejutkan: indikator paling akurat untuk memprediksi kesuksesan anak bukan nilai ujian atau keaktifan di OSIS — melainkan kebiasaan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
“Tanggung jawab tumbuh dari hal-hal kecil. Minta anak menutup gorden sendiri. Cuci piring sendiri setelah makan. Kebiasaan kecil seperti ini berkorelasi langsung dengan pembentukan mentalitas kepemimpinan.”
Oleh sebab itu, orang tua perlu membiasakan anak mandiri menyelesaikan urusan kecilnya. Kemudian, saat melihat sesuatu berantakan, anak yang terbiasa tidak menunggu disuruh — ia langsung bergerak. Dengan demikian, sikap itulah yang mereka bawa saat memimpin kelak.
3. Grit di Atas Kepintaran
Pak Fauzan punya latar belakang yang tidak biasa: ia menghadapi kerasnya Jakarta sejak usia 15 tahun, termasuk masa-masa di jalanan Blok M. Meski demikian, pengalaman itu justru memperkuat satu keyakinannya — pendidikan adalah jalan keluar terbaik dari kesulitan ekonomi.
Selain itu, setelah merekrut talenta dari Oxford, Cambridge, hingga berbagai kampus lokal Indonesia, ia menarik satu kesimpulan yang konsisten: kemampuan teknis luar biasa tidak banyak gunanya tanpa Grit dan Persistency. Oleh karena itu, industri global justru mencari karakter pantang menyerah itu — bukan deretan nilai A di lembar ijazah. Terlebih lagi, talenta Indonesia sudah punya modal itu secara alami.
Peran Pemerintah
Menuju Indonesia Emas 2045, pemerintah menjalankan dua jalur sekaligus. Pertama, program ekuitas meratakan kualitas pendidikan dari Sabang sampai Merauke dengan anggaran triliunan rupiah. Kedua, jalur strategis memfasilitasi “atlet akademik” berprestasi melalui Sekolah Garuda — dengan target konkret: melahirkan peraih Nobel Prize pertama dari Indonesia.
Namun, transformasi ini tidak bisa instan dan tidak bisa satu pihak kerjakan sendiri. Oleh karena itu, kita membutuhkan kerja sama akademisi, pemerintah, industri, dan orang tua. Pada akhirnya, investasi terbaik dalam pendidikan anak untuk masa depan bukan soal ranking — melainkan dimulai dari hal paling dekat: rumah, tugas kecil sehari-hari, dan keputusan untuk berhenti memaksa anak mengejar angka yang tidak berarti.
- Penulis: donny rosady
- Editor: creative dibahas.com

Saat ini belum ada komentar