Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Emisi Metana di TPA Bantar Gebang Bekasi Jadi Sorotan Dunia

Emisi Metana di TPA Bantar Gebang Bekasi Jadi Sorotan Dunia

  • account_circle donny rosady
  • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
  • visibility 45
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Emisi metana TPA Bantar Gebang kini terdeteksi dari luar angkasa — dan gas yang mengepul dari gunungan sampah Jakarta itu 40 kali lebih berbahaya dari CO₂ yang kita hirup setiap hari.

3.000%
kenaikan emisi metana sektor sampah 1990–2019
70.000
ton sampah organik masuk TPA setiap hari
40×
lebih merusak dari CO₂ dalam jangka pendek

emisi metana TPA Bantar Gebang Bekasi

Emisi metana TPA Bantar Gebang kini masuk radar satelit internasional. Kamera termal milik NASA dan Carbon Mapper yang mengorbit ratusan kilometer di atas kepala kita dapat mendeteksi awan gas metana — tak berwarna, tak berbau, tapi nyata — yang mengepul dari lokasi-lokasi pembuangan sampah besar di seluruh dunia. Yang mengejutkan, sumber terbesar itu bukan berasal dari negara industri besar. Sebaliknya, lokasinya ada di pinggiran Bekasi.

Bantar Gebang bukan sekadar tempat buang sampah. Bahkan, gunungannya setara ketinggian gedung belasan lantai. Di dalamnya, separuh lebih adalah sampah organik — sisa makanan, dedaunan, segala yang pernah hidup — yang kini membusuk tanpa oksigen, menghasilkan metana terus-menerus, dua puluh empat jam sehari. Dengan demikian, metana terus naik. Diam-diam, tapi pasti.

“Peningkatan emisi metana dari sektor persampahan Indonesia itu lebih dari 3.000% untuk periode 1990 sampai 2019.”
— Data Climate Transparency, 2022

Mengapa Metana Berbeda dari CO₂

CO₂ sering jadi kambing hitam tunggal dalam diskusi perubahan iklim, dan memang benar ia berbahaya. Namun, metana punya karakter tersendiri. Berbeda dari CO₂ yang bisa bertahan berabad-abad, metana tidak bertahan lama di atmosfer — hanya sekitar 15 hingga 20 tahun. Meski begitu, selama dua dekade itu, metana menyerap panas jauh lebih agresif: sekitar 20 hingga 40 kali lebih kuat dari CO₂.

Oleh karena itu, jika kita ingin mendinginkan bumi dalam tempo yang bisa kita rasakan di masa hidup ini, mengurangi metana adalah cara tercepat untuk melakukannya. Ironisnya, kita malah sedang melipatgandakannya — tanpa sengaja, dan melalui aktivitas sepele: membuang sisa nasi ke tong sampah.

Secara kimiawi, proses yang terjadi di dalam gunungan sampah itu sederhana, meski dampaknya tidak. Ketika sampah organik tertimbun tanpa akses oksigen, bakteri pengurai bekerja secara anaerobik — menghasilkan gas metana (CH₄) sebagai produk sampingan. Semakin besar tumpukan, semakin deras pula produksi gas. Selanjutnya, karena metana lebih ringan dari udara, ia naik, menembus lapisan sampah, dan lepas ke atmosfer.

“Kalau sampah organik tidak ditangani dengan baik, dekomposisi anaerobik akan membentuk gas metana — yang daya rusaknya 20 sampai 40 kali lebih ganas dibanding CO₂.”
— Pakar Pengelolaan Sampah

Separuh Masalah, Separuh Solusi

Ini bagian yang ironis. Data menunjukkan bahwa emisi metana TPA Bantar Gebang — dan ribuan TPA lain di Indonesia — bersumber dari sampah yang sebetulnya bisa ditangani lebih awal. Hampir separuh dari 140.000 ton sampah yang masuk ke TPA setiap harinya adalah sampah organik. Artinya, kita sebenarnya bisa menyelesaikan sekitar 70.000 ton per hari jauh sebelum sampai ke Bantar Gebang — di dapur, di kantin kantor, di meja kasir restoran.

Pemerintah pun sudah menyadari ini. Mulai 1 Agustus mendatang, pemerintah resmi melarang semua TPA di Indonesia menerima sampah organik — hanya residu yang boleh masuk. Kebijakan ini ambisius dan sudah lama ditunggu. Akan tetapi, keberhasilannya bergantung sepenuhnya pada apa yang terjadi di hulu — di tangan masyarakat, pengelola gedung, pemilik warung makan, dan manajemen mal.

Memang, pilah sampah dari rumah adalah langkah awal yang masuk akal. Namun, rumah saja tidak cukup. Selama restoran, perkantoran, hotel, dan pedagang kaki lima masih membuang sisa makanan ke kantong hitam yang sama, upaya siapa pun di tingkat rumah tangga akan terlindas di ujung rantai. Dengan kata lain, masalah ini sistemik, dan solusinya juga harus begitu.

“Gunung sampah yang kita lihat di Bantar Gebang hanyalah yang kasat mata. Yang tidak terlihat — metana yang terus mengepul ke langit — itulah yang sedang mengubah cuaca kita.”
— Catatan Redaksi

Yang bisa kamu lakukan sekarang: Pertama, pisahkan sampah organik dari sampah lainnya. Selain itu, gunakan komposter rumahan atau serahkan ke bank sampah terdekat. Satu keputusan kecil di dapur, dikalikan jutaan rumah tangga, bisa benar-benar mengubah angka-angka itu.

 

  • Penulis: donny rosady
  • Editor: creative dibahas.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • kanker ginjal vidi aldiano

    Belajar dari Perjuangan Vidi Aldiano: Mengenal Kanker Ginjal, Gejala, dan Langkah Medisnya

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Kepergian penyanyi berbakat Vidi Aldiano pada Sabtu, 7 Maret 2026, menyisakan duka mendalam sekaligus pelajaran berharga bagi publik. Selama enam tahun terakhir, Vidi menunjukkan kegigihan luar biasa melawan kanker ginjal. Sejak menerima diagnosis pertama pada 2019, ia terus membagikan semangat positif melalui momen pengobatannya yang ia sebut dengan istilah “spa day” sebagai inspirasi bagi sesama […]

  • golongan darah B awet muda

    Benarkah Pemilik Golongan Darah B Lebih Awet Muda? Ini Penjelasannya

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Penelitian Golongan Darah Apakah benar golongan darah B lebih awet muda? Banyak orang mengira awet muda cuma soal skincare dan jam tidur. Tapi sejumlah peneliti melihat ke arah lain: golongan darah. Tim Shimizu di Tokyo meneliti soal ini pada tahun 2004. Mereka menemukan hubungan antara golongan darah B dan usia harapan hidup yang lebih panjang—klaim […]

  • biografi Zinedine Zidane

    Biografi Zinedine Zidane: Jejak Sang Maestro yang Mengubah Sejarah Sepak Bola

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Dalam panggung sepak bola modern, hanya sedikit pemain yang memiliki karisma dan kecerdasan taktik seperti Zinedine Zidane. Bukan hanya karena kemampuannya mengolah bola dengan elegan, melainkan juga karena ia mampu meraih kesuksesan luar biasa, baik sebagai pemain maupun pelatih. Oleh sebab itu, dunia mengenal sosok berjuluk Zizou ini sebagai salah satu jenius terbesar dalam sejarah […]

  • TSMC perusahaan chip paling berpengaruh di dunia

    Mengenal TSMC, Perusahaan Chip yang Mengendalikan Dunia.

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Irawan
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Belakangan ini, publik ramai membicarakan Taiwan serta peran besar perusahaan TSMC. Sebab, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) bukan sekadar perusahaan teknologi biasa. TSMC merupakan perusahaan chip paling berpengaruh di dunia. Oleh karena itu, ia menjadi fondasi utama bagi hampir seluruh perangkat digital modern saat ini. Mulai dari ponsel pintar hingga sistem kecerdasan buatan sangat bergantung […]

  • perbedaan kopi robusta dan arabika

    Jangan Salah Pesan! Ini 5 Perbedaan Kopi Robusta dan Arabika yang Wajib Diketahui Pemula

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Pernah mendadak bingung waktu barista tanya, “Mau Arabika atau Robusta, Kak?” dan satu-satunya jawaban yang keluar adalah senyum canggung plus, “Yang biasa aja deh”? Wajar. Bagi kebanyakan orang, kopi ya kopi. Tapi ternyata pilihan biji kopi menentukan apakah hari Anda dimulai dengan rasa yang Anda suka atau dengan perut yang protes sampai siang. Ini perbedaan […]

  • Chery QQ3 EV

    Chery QQ3 EV: Mobil Listrik 100 Jutaan yang Siap Guncang Pasar LCGC Indonesia

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Banyak orang menganggap kendaraan listrik (EV) sebagai barang mewah karena harga rata-rata mobil listrik di Indonesia mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Angka tersebut tentu membuat kaum “mendang-mending” ragu untuk beralih dari mobil bensin. Kini, Chery QQ3 EV hadir untuk mendobrak pasar dan menawarkan alternatif kendaraan ramah lingkungan dengan harga yang jauh lebih ekonomis. Namun, […]

expand_less