Emisi Metana di TPA Bantar Gebang Bekasi Jadi Sorotan Dunia
- account_circle donny rosady
- calendar_month 27 menit yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Emisi metana TPA Bantar Gebang kini terdeteksi dari luar angkasa — dan gas yang mengepul dari gunungan sampah Jakarta itu 40 kali lebih berbahaya dari CO₂ yang kita hirup setiap hari.

Emisi metana TPA Bantar Gebang kini masuk radar satelit internasional. Kamera termal milik NASA dan Carbon Mapper yang mengorbit ratusan kilometer di atas kepala kita dapat mendeteksi awan gas metana — tak berwarna, tak berbau, tapi nyata — yang mengepul dari lokasi-lokasi pembuangan sampah besar di seluruh dunia. Yang mengejutkan, sumber terbesar itu bukan berasal dari negara industri besar. Sebaliknya, lokasinya ada di pinggiran Bekasi.
Bantar Gebang bukan sekadar tempat buang sampah. Bahkan, gunungannya setara ketinggian gedung belasan lantai. Di dalamnya, separuh lebih adalah sampah organik — sisa makanan, dedaunan, segala yang pernah hidup — yang kini membusuk tanpa oksigen, menghasilkan metana terus-menerus, dua puluh empat jam sehari. Dengan demikian, metana terus naik. Diam-diam, tapi pasti.
“Peningkatan emisi metana dari sektor persampahan Indonesia itu lebih dari 3.000% untuk periode 1990 sampai 2019.”
— Data Climate Transparency, 2022
Mengapa Metana Berbeda dari CO₂
CO₂ sering jadi kambing hitam tunggal dalam diskusi perubahan iklim, dan memang benar ia berbahaya. Namun, metana punya karakter tersendiri. Berbeda dari CO₂ yang bisa bertahan berabad-abad, metana tidak bertahan lama di atmosfer — hanya sekitar 15 hingga 20 tahun. Meski begitu, selama dua dekade itu, metana menyerap panas jauh lebih agresif: sekitar 20 hingga 40 kali lebih kuat dari CO₂.
Oleh karena itu, jika kita ingin mendinginkan bumi dalam tempo yang bisa kita rasakan di masa hidup ini, mengurangi metana adalah cara tercepat untuk melakukannya. Ironisnya, kita malah sedang melipatgandakannya — tanpa sengaja, dan melalui aktivitas sepele: membuang sisa nasi ke tong sampah.
Secara kimiawi, proses yang terjadi di dalam gunungan sampah itu sederhana, meski dampaknya tidak. Ketika sampah organik tertimbun tanpa akses oksigen, bakteri pengurai bekerja secara anaerobik — menghasilkan gas metana (CH₄) sebagai produk sampingan. Semakin besar tumpukan, semakin deras pula produksi gas. Selanjutnya, karena metana lebih ringan dari udara, ia naik, menembus lapisan sampah, dan lepas ke atmosfer.
“Kalau sampah organik tidak ditangani dengan baik, dekomposisi anaerobik akan membentuk gas metana — yang daya rusaknya 20 sampai 40 kali lebih ganas dibanding CO₂.”
— Pakar Pengelolaan Sampah
Separuh Masalah, Separuh Solusi
Ini bagian yang ironis. Data menunjukkan bahwa emisi metana TPA Bantar Gebang — dan ribuan TPA lain di Indonesia — bersumber dari sampah yang sebetulnya bisa ditangani lebih awal. Hampir separuh dari 140.000 ton sampah yang masuk ke TPA setiap harinya adalah sampah organik. Artinya, kita sebenarnya bisa menyelesaikan sekitar 70.000 ton per hari jauh sebelum sampai ke Bantar Gebang — di dapur, di kantin kantor, di meja kasir restoran.
Pemerintah pun sudah menyadari ini. Mulai 1 Agustus mendatang, pemerintah resmi melarang semua TPA di Indonesia menerima sampah organik — hanya residu yang boleh masuk. Kebijakan ini ambisius dan sudah lama ditunggu. Akan tetapi, keberhasilannya bergantung sepenuhnya pada apa yang terjadi di hulu — di tangan masyarakat, pengelola gedung, pemilik warung makan, dan manajemen mal.
Memang, pilah sampah dari rumah adalah langkah awal yang masuk akal. Namun, rumah saja tidak cukup. Selama restoran, perkantoran, hotel, dan pedagang kaki lima masih membuang sisa makanan ke kantong hitam yang sama, upaya siapa pun di tingkat rumah tangga akan terlindas di ujung rantai. Dengan kata lain, masalah ini sistemik, dan solusinya juga harus begitu.
“Gunung sampah yang kita lihat di Bantar Gebang hanyalah yang kasat mata. Yang tidak terlihat — metana yang terus mengepul ke langit — itulah yang sedang mengubah cuaca kita.”
— Catatan Redaksi
Yang bisa kamu lakukan sekarang: Pertama, pisahkan sampah organik dari sampah lainnya. Selain itu, gunakan komposter rumahan atau serahkan ke bank sampah terdekat. Satu keputusan kecil di dapur, dikalikan jutaan rumah tangga, bisa benar-benar mengubah angka-angka itu.
- Penulis: donny rosady
- Editor: creative dibahas.com

Saat ini belum ada komentar