Breaking News
light_mode
Trending Tags
Maaf, tidak ditemukan tags pada periode waktu yang ditentukan.
Beranda » Berita » Fenomena 45 Ribu Sarjana Putus Asa Cari Kerja: Gelar Tinggi, Tapi Kok Susah Dapat Kerja?

Fenomena 45 Ribu Sarjana Putus Asa Cari Kerja: Gelar Tinggi, Tapi Kok Susah Dapat Kerja?

  • account_circle donny rosady
  • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
  • visibility 66
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Isu struktural Sarjana Putus Asa Cari Kerja di awal tahun kembali menjadi pusat perhatian publik. Hasil riset terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia mengungkap realitas pahit di balik statistik ketenagakerjaan: melonjaknya jumlah “penduduk putus asa” (discouraged workers).

Kondisi ini memicu diskusi mendalam mengenai relevansi pendidikan tinggi dengan ketersediaan lapangan kerja di tanah air.

Lonjakan Angka “Penduduk Putus Asa”

Dalam sebuah sesi wawancara, ekonom sekaligus peneliti LPEM FEB UI, Jahen Rezki, membedah data yang menunjukkan tren kenaikan penduduk putus asa dari 1,68 juta menjadi 1,87 juta orang dalam setahun terakhir.

Kelompok ini mencakup individu yang telah berupaya keras mencari kerja, namun akhirnya berhenti karena merasa peluang bagi mereka sudah tertutup. Berdasarkan tingkat pendidikan, data tersebut mencatat angka yang memprihatinkan:

  • 45.000 lulusan Sarjana (S1) masuk kategori putus asa.

  • 6.000 lulusan Pascasarjana (S2/S3) mengalami nasib serupa.

“Secara teoritis, pendidikan tinggi seharusnya menjamin kemudahan seseorang mendapatkan pekerjaan. Namun faktanya, sektor ekonomi saat ini masih didominasi sektor tradisional yang belum membutuhkan kualifikasi keahlian tinggi,” ujar Jahen.

Akar Masalah: Skill Mismatch dan Jebakan Sektor Informal

Jahen menekankan bahwa akar permasalahan terletak pada ketidaksesuaian keahlian (skill mismatch). Dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum yang belum sejalan dengan kebutuhan dinamis dunia industri.

Selain itu, transisi lulusan sarjana ke pekerjaan informal—seperti pengemudi transportasi daring—menjadi “jebakan produktivitas” jangka panjang. Meskipun memberikan penghasilan instan, sektor informal tidak menawarkan perlindungan sosial dan nilai tambah optimal bagi pertumbuhan ekonomi makro.

“Pemerintah harus mengalihkan fokus dari sekadar angka kuantitas pengangguran menuju penciptaan lapangan kerja berkualitas,” tegasnya.

Daya Serap Investasi yang Menurun

Diskusi ini juga menyoroti penurunan drastis kemampuan investasi dalam menyerap tenaga kerja. Jika satu dekade lalu investasi senilai Rp1 triliun mampu menyerap hingga 2.500 tenaga kerja, kini angka tersebut merosot ke kisaran 1.200 orang.

Hambatan non-ekonomi, seperti praktik pungutan liar (bribery incidence) yang mencapai 30% pada perusahaan besar, turut menghambat ekspansi dunia usaha. Hal inilah yang menyebabkan minimnya pembukaan lowongan kerja baru yang berkualitas.

Langkah Strategis Menuju Solusi

Untuk memutus rantai keputusasaan para lulusan terdidik, LPEM UI menawarkan beberapa catatan kritis bagi pemerintah dan institusi pendidikan:

  • Integrasi Kurikulum dan Industri: Melibatkan sektor swasta dan manufaktur global dalam menyusun kurikulum agar tercipta keselarasan keahlian.

  • Menciptakan Ekosistem Bisnis yang Sehat: Menjamin kepastian hukum (rule of law) agar pelaku usaha berani melakukan ekspansi besar-besaran.

  • Investasi pada Modal Manusia: Memperkuat program upskilling dan reskilling yang relevan dengan perkembangan teknologi masa kini.

  • Fasilitasi Mobilitas Global: Membuka akses bagi tenaga kerja muda terampil untuk berkompetisi di pasar kerja internasional.

“Tugas pemerintah adalah menjadi regulator yang menciptakan ekosistem kondusif. Jika dunia usaha berkembang tanpa gangguan regulasi yang tidak perlu, kapasitas penyerapan tenaga kerja pasti akan meningkat kembali,” tutup Jahen.

Sobat dibahas, bagaimana pendapat Anda mengenai fenomena Sarjana Putus Asa Cari Kerja ini? Apakah kurikulum pendidikan saat ini sudah menjawab kebutuhan dunia kerja? Sampaikan opini Anda di kolom komentar.

  • Penulis: donny rosady
  • Editor: creative dibahas.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • VinFast VF e34

    Review VinFast VF e34: Kecanggihan Taksi Listrik Green SM di Balik Tragedi Maut Bekasi

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Sinergi Transportasi Hijau: Taksi Green SM Gunakan VinFast Awal tahun 2026 menjadi tonggak penting bagi Green SM. Hal ini terjadi karena perusahaan layanan transportasi berbasis aplikasi tersebut mulai mengoperasikan mobil listrik asal Vietnam, VinFast VF e34, secara masif. Selain itu, armada ini membawa warna hijau tosca yang ikonik sebagai simbol solusi transportasi “nol emisi”. Oleh […]

  • penghasilan tambahan dari ternak domba

    Cara Cerdas Cari Penghasilan Tambahan Tanpa Harus Resign

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Mencari penghasilan tambahan tidak selalu harus dengan membuka toko online atau menjadi pengemudi ojek daring. Bagi Anda yang memiliki sedikit lahan di kampung halaman atau area pinggiran kota, beternak domba menjadi pilihan bisnis sampingan yang sangat masuk akal. Anda cukup mempelajari strategi dan cara mulai bisnis sampingan ini untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari ternak domba […]

  • Makanan untuk meningkatkan daya ingat otak

    Rahasia Nutrisi untuk Meningkatkan Daya Ingat: Makanan Apa Saja yang Menyehatkan Otak?

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Sering kali kita mendadak lupa nama rekan kerja atau kesulitan mengingat detail kecil dari masa lalu. Padahal, memori merupakan kemampuan krusial otak untuk menyimpan sekaligus memanggil kembali berbagai informasi penting. Namun, tahukah Anda bahwa menu makanan sehari-hari sangat menentukan seberapa tajam fungsi otak kita? Mari kita bedah lebih dalam mengenai berbagai pilihan makanan untuk meningkatkan […]

  • Pembenihan Ikan Nila Intensif

    Teknologi Pembenihan Ikan Nila Intensif di Sukabumi: Hemat Lahan & Hasil Jutaan Ekor

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Budidaya ikan nila kini memasuki babak baru. Deni Rusmawan, seorang pembudidaya inovatif dari Jalan Cibaraja, Salajambe, Cisaat, Kabupaten Sukabumi, sukses menerapkan sistem pembenihan intensif yang jauh lebih efisien daripada metode tradisional. Inovasi ini menjadi jawaban atas tantangan keterbatasan lahan bagi para peternak ikan. Pembenihan Ikan Nila Intensif Menggabungkan Ecolecting dan Inkubator RAS Sistem ini mengandalkan […]

  • Biofuel E20

    Biofuel E20: Strategi Mentan Amran Perkuat Kemandirian Energi Pengganti Pertalite

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa hilirisasi sektor pertanian merupakan kunci utama bagi masa depan Indonesia. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian segera merespons arahan tersebut dengan melakukan langkah nyata di lapangan. Secara khusus, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kini memimpin akselerasi besar-besaran untuk memproduksi Biofuel E20. Inisiatif ini memanfaatkan komoditas lokal seperti jagung dan tebu guna […]

  • Wisata Purwokerto 2026

    10 Tempat Wisata Purwokerto Terbaru 2026 yang Lagi Hits & Wajib Dikunjungi

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle donny rosady
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Purwokerto kembali bersinar di tahun 2026 sebagai destinasi favorit di Jawa Tengah. Dengan udara sejuk lereng Gunung Slamet dan perpaduan infrastruktur modern, kota ini menawarkan pengalaman liburan yang tak terlupakan. Jika Anda berencana berkunjung dalam waktu dekat, berikut adalah rekomendasi lokasi wisata Purwokerto 2026 paling hits dan terbaru yang wajib masuk dalam itinerary Anda. 10 […]

expand_less